Selasa, 14 Mei 2013
Kamis, 10 Januari 2013
Puisi Pramugari Merpati untuk Bayi Annisa
![]() |
| Foto setelah persalinan |
Singkat cerita bayi itu berhasil dikeluarkan dari Rahim Ibunya (Harmani (33) ), namun malang setelah dirawat di rumah sakit akhirnya sang bayi yang diberi nama Annisa Laila Juwita Sari Merpati (gabungan nama Pramugari ) meninggal. Salah satu pramugari yang membantu persalinan itu mengabadikan peristiwa itu dalam sebuah puisi yang indah, mungkin ini bisa membuat para ibu menangis. Beginilah syair yang dituliskan Sherly Juwita, pramugari yang dimaksud :
Nak ...
Di ketinggian 32.000 kaki kita bertemu
Sentuhan lembut dari kulit berumur detik
Lemah, tak berdaya
Isak pertamamu nak, begitu halus ...
Kudekap dirimu dengan dekapan hangat
Berharap terganti pelukan ibumu
Kujaga dirimu dengan sepenuh jiwaku
berharap cinta dan doa kami bisa menghangatkan tubuhmu
Lihat nak ...
Menangislah nak ...
Tunjukkan pada kami, doa dan usaha kami tidak sia sia
Nak ...
Kau beri kami kegembiraan dalam keharuan
Kau menggeliat, menangis, matamu terbuka
Lihat, di atas ketinggian 32.000 kaki ...
Semua orang di sini menyelimutimu dengan doa
Menghangatkanmu dengan cinta kasih
Kami sebut Annisa Laila Juwita Sari Merpati
Prasasti bagi kami
Berharap pengikat silaturrahmi
Namun ...
Kini kau telah pergi, jauh,
Jauh lebih tinggi dari sekadar 32.000 kaki
Menghadap Sang Pencipta
Selamat jalan nak ...
28 jam kehidupanmu memberi banyak bagi kami
Kau bawakan kami, makna cinta kasih dan ketulusan
Tidurlah nak ...
Tidurlah dengan damai
Tidurlah dalam dekapan Sang Maha Rahiim
Bunda sayang kamu ...
Sherly Juwita
Kamis, 27 Desember 2012
Ketika Aku Sendiri
Aku kesepian, ketika aku sendiri
Aku kesepian ketika kau tak di sini, sedangkan kau tak pernah pergi dari lubuk hati
Aku kesepian ketika sesaat lalu kau beranjak pulang, sedangkan suaramu kau tinggalkan di fikiranku
Aku kesepian ketika kau di sana bernyanyi tapi telingaku tuli di sini
Aku kesepian di setiap pagi, sedangkan wajahmu yang pertama kuingat saat aku terjaga
Aku kesepian di setiap langkahan kaki, karena kau yang sejengkal mata tak pernah bisa kudatangi
Semua tentangmu terlelap, terwujud menjadi mimpi
Aku tak mungkin mencelamu, hanya karena kau telah pergi
Aku tak mungkin mencelamu, hanya karena para adam di sana mengejarmu
Aku tak mungkin mencelamu, hanya karena hatiku remuk dibuat mereka
Aku tak mungkin mencelamu, hanya karena rasa iriku yang merasa gagal membahagiakanmu
Aku tak mungkin mencelamu, hanya karena kau yang paling menyakitiku
Rasa sakit yang kau buat ini, adalah perwujudkan betapa aku sangat mengasihimu
Kau tak mungkin kucela, kau tak mungkin kusesalkan
Kalau nyatanya kau adalah kebahagiaan yang selalu kuharapkan
Kalau nyatanya dulu kala itu kau satu-satunya yang memberiku kebahagiaan yang berbeda
Aku bahagia, ketika aku mengingat bangku kayu di depan itu
Tempat biasanya kita bicara hal-hal yang mungkin tidak begitu penting buatmu
Karena begitu bodohnya aku tak bisa berkata-kata yang sedikit romantis
Tapi di situ aku bisa melihat kau yang bagiku sangat konyol
Sungguh aku ingin tertawa jika mengingatnya ...
Aku bahagia, ketika mengingat itu semua ..
Dan aku juga sangat bahagia jika bayanganmu datang menyapaku di setiap hari
Membuat suasana hujan ini menjadi begitu hangat ...
Membuat aku begitu merindu ...
Dan taukah kau apa yang kurasakan saat-saat mengingat masa bahagia itu ???
Aku semakin Kesepian
Selengkapnya »»
Aku kesepian ketika kau tak di sini, sedangkan kau tak pernah pergi dari lubuk hati
Aku kesepian ketika sesaat lalu kau beranjak pulang, sedangkan suaramu kau tinggalkan di fikiranku
Aku kesepian ketika kau di sana bernyanyi tapi telingaku tuli di sini
Aku kesepian di setiap pagi, sedangkan wajahmu yang pertama kuingat saat aku terjaga
Aku kesepian di setiap langkahan kaki, karena kau yang sejengkal mata tak pernah bisa kudatangi
Semua tentangmu terlelap, terwujud menjadi mimpi
Aku tak mungkin mencelamu, hanya karena kau telah pergi
Aku tak mungkin mencelamu, hanya karena para adam di sana mengejarmu
Aku tak mungkin mencelamu, hanya karena hatiku remuk dibuat mereka
Aku tak mungkin mencelamu, hanya karena rasa iriku yang merasa gagal membahagiakanmu
Aku tak mungkin mencelamu, hanya karena kau yang paling menyakitiku
Rasa sakit yang kau buat ini, adalah perwujudkan betapa aku sangat mengasihimu
Kau tak mungkin kucela, kau tak mungkin kusesalkan
Kalau nyatanya kau adalah kebahagiaan yang selalu kuharapkan
Kalau nyatanya dulu kala itu kau satu-satunya yang memberiku kebahagiaan yang berbeda
Aku bahagia, ketika aku mengingat bangku kayu di depan itu
Tempat biasanya kita bicara hal-hal yang mungkin tidak begitu penting buatmu
Karena begitu bodohnya aku tak bisa berkata-kata yang sedikit romantis
Tapi di situ aku bisa melihat kau yang bagiku sangat konyol
Sungguh aku ingin tertawa jika mengingatnya ...
Aku bahagia, ketika mengingat itu semua ..
Dan aku juga sangat bahagia jika bayanganmu datang menyapaku di setiap hari
Membuat suasana hujan ini menjadi begitu hangat ...
Membuat aku begitu merindu ...
Dan taukah kau apa yang kurasakan saat-saat mengingat masa bahagia itu ???
Aku semakin Kesepian
Sabtu, 22 Desember 2012
Aku Menyebutmu Ibu
Ibu, Apa kabar ibu??
Semoga Tuhan senantiasa menjaga Engkau saat aku tak bisa di sisimu. Tuhan tau
aku mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri. Walaupun mungkin aku
anak yang susah diatur, tapi benar ibu, aku tak pernah luput mendo’akanmu. Aku
selalu memohon Tuhan memberimu umur yang panjang & banyak barokahnya. Lalu
kuselipkan do’a untukku sendiri semoga aku kelak bisa membuatmu hidup layak dan
bahagia. Aku tak tau bagaimana sakitnya engkau saat melahirkanku. Ibu, aku sungguh
bahagia dilahirkan dari rahim wanita penyabar sepertimu. Yang tak lelah
menimangku saat tangisanku mengganggu tetangga-tetangga yang sedang tidur, yang
tak mengeluh saat aku terbangun tengah
malam mengganggu tidurmu sampai akhirnya kata sayang dan tangan hangatmu
melelapkanku kembali. Hangat kasihmu tiada duanya ibu.
Ibu, anakmu yang dulu tak bisa lepas dari pelukanmu kini sudah tak bisa lagi menemanimu, membantumu di sawah kita, memungut kayu bakar atau mengambilkan air seperti dulu lagi. Waktu telah menggiringku ke tempat-tempat asing untuk mencari kehidupan yang baik, tapi itu kulakukan demi engkau ibu. Aku sangat ingin membuatmu senang. Aku bahagia saat senyummu mengambang di depan pintu ketika aku pulang, lalu kuceritakan kisah-kisahku di sini, dan kupersembahkan apa yang bisa kuberikan untukmu. Lalu biasanya aku tertidur, bukan karena aku lelah, tapi sungguh damai terlelap setelah melihat sesungging senyummu ibu.
Ibu, anakmu yang dulu tak bisa lepas dari pelukanmu kini sudah tak bisa lagi menemanimu, membantumu di sawah kita, memungut kayu bakar atau mengambilkan air seperti dulu lagi. Waktu telah menggiringku ke tempat-tempat asing untuk mencari kehidupan yang baik, tapi itu kulakukan demi engkau ibu. Aku sangat ingin membuatmu senang. Aku bahagia saat senyummu mengambang di depan pintu ketika aku pulang, lalu kuceritakan kisah-kisahku di sini, dan kupersembahkan apa yang bisa kuberikan untukmu. Lalu biasanya aku tertidur, bukan karena aku lelah, tapi sungguh damai terlelap setelah melihat sesungging senyummu ibu.
Ibu, Aku selalu
percaya, do’amu juga tak pernah berhenti untukku. Dan aku yakin do’a kita
bertemu di suatu tempat & suatu saat pasti akan menjadi nyata. Aamiin.
Aku menyebutmu ibu,
karena kau yang bertaruh nyawa melahirkanku.
Aku menyebutmu ibu, karena kau yang member kasih saying untukku tanpa keluh kesah.
Aku menyebutmu ibu, karena kau yang member kasih saying untukku tanpa keluh kesah.
Aku menyebutmu ibu,
karena kau orang yang paling khawatir saat tubuhku tak seprti biasa.
Aku menyebutmu ibu,
karena kau yang paling mengerti tanpa aku harus berkata.
Aku menyebutmu ibu
karena kau malaikat yang selalu menjagaku dari panasnya terik matahari &
dinginnya hujan.
Aku menyebutmu ibu,
karena kau harta paling berharga dalam kehidupanku.
Sejauh apapun aku
pergi, sebanyak apapun aku mengenal manusia, sebanyak apapun harta yang
kudapat, ibuku tetaplah satu.
Aku sadar ibu, nyawaku
pun takkan bisa mengganti jasa & kasih sayangmu kepadaku. Betapa Tinnginya
derajatmu di hadapan Tuhan.
Ibu, tenanglah
terimakasih untuk selama ini, kau adalah ibu terbaik di dunia ini. Biarlah
Tuhan anugerahkan rasa Rindu ini sebagai pengingat kita, sejatinya hati kita
tak pernah berpisah. Inginku saat ini hanya membahagiakanmu, Cuma itu.
Baik-baik di rumah, tak lama lagi anakmu akan pulang. Bayangkanlah aku menjabat
& mencium tanganmu. Selamat hari Ibu. Allohummaghfirlii Dzunubii,
waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaani soghiiroo.aamiin.
Minggu, 09 Desember 2012
Pesan Ali bin Abi Thalib R.A.
Ali bin Abi Thalib R.A. adalah gudangnya ilmu setelah Nabi Muhammad SAW. Dia adalah Khulafaur Rasyidin yang juga paling saya kagumi selain Khalifah Umar bin Khattab, mereka adalah laki-laki sejati. Diantara pesan Ali bin Abi Thalib RA yang paling menusuk menurut saya adalah apa yang akan saya tulis di bawah ini, semoga menjadi renungan untuk kita semua .. aamiin.Aku khawatir terhadap suatu masa yang roda kehidupannya dapat menggilas keimanan, keimanan hanya tinggal pemikiran yang tak berbekas dalam perbuatan …
Banyak orang yang baik tapi tak berakal, ada orang yang berakal tapi tak beriman …
Ada lidah fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyuk tapi sibuk dalam kesendirian …
Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis, ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi …
Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, dan ada yang menangis karena kufur nikmat …
Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat, ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut …
Ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan, dan ada pelacur yang tampil jadi figur …
Ada orang yang punya ilmu tapi tak faham, ada yang faham tapi tak menjalankan …
Ada yang pintar tapi membodohi, ada yang bodoh tak tahu diri …
Ada orang beragama tapi tak berakhlak, ada yang berakhlak tapi tak bertuhan …
Lalu di antara semua itu, dimanakah aku berada … ??
ALI BIN ABI THALIB, RA
Senin, 01 Oktober 2012
Paragraf Tentang Ayah
Sebuah Kata berjuta Makna, Rangkaian kata yang kini benar-benar hanya sebuah Cerita. Karena jauhnya dia pergi meninggalkanku, dan tak mungkin kembali, dan dekatnya hati tak mampu mempertemukan kita lagi, Ayah.
Kamis, 17 September 2007. Hari itu cerah, pohon-pohon diam seperti tidur, anginpun sepertinya enggan berbisik-bisik, saat itu petang menjelang maghrib. Pada Hari itulah Malaikat itu bertamu ke rumahku untuk menjemput Ayahku, bertepatan dengan malam Jum'at. Rumahku sangat ramai kala itu, dikerumuni warga yang memang sejak pagi datang silih berganti menjenguk ayahku yang sakit, lemah tak berdaya. Masih jelas di memoriku, hari itu adalah hari Ulang Tahun adikku & juga hari dimana kami seharusnya berbuka puasa bersama untuk pertama kalinya karena hari itu juga hari pertama kami melaksanakan ibadah puasa ramadhan tapi kami merayakannya dengan isak tangis yang menggebu-nggebu, tak pernah aku menangis seperti itu. Aku juga ingat, saat ayah menghembuskan nafas-nafas terakhirnya aku sedang terhanyut membaca ayat-ayat Yaasiin dengan derai air mata, aku tertunduk tak kuasa menahan tangis, tak kuasa aku menatap ibu & adik-adik kecilku memeluk dan menciumi ayah dengan rasa duka, mereka menangis sejadinya. Tak sanggup aku selesaikan Ayat Yaasiin itu, akupun sudah tak kuat lagi menahan sesak di hati. Kakiku yang bersila benar-benar tak mampu kugerakkan lagi, aku seperti patung yang menangis, Surat Yaasiin yang basah dengan air mata itu juga tak mampu kulepas dari tanganku, seluruh tubuhku kaku. Hanya mataku yang saat itu berisyarat, kawan-kawan di sampingku mengusap-ngusap pundakku, "sabar, mungkin ini yang terbaik" begitulah mereka berkata. Tapi ragaku masih kaku, benar-benar tak bisa bergerak lagi, hingga orang-orang membopongku masuk ke dalam kamar ibu, benar-benar aku lemah tak berdaya. Semalam itu aku habiskan untuk mendampingi jenazah ayah di ruang tamu. Dalam Hati ada kata yang tak pernah berhenti berucap "Ayah, Maafkan anakmu".
Pagi harinya, aku bergegas bersama kawan-kawan dan tetangga-tetanggaku membantu untuk membuat Keranda Jenazah untuk ayah, sambil menahan sedih di depan mereka, aku yang biasa bicara dan tertawa bersama mereka hanya bisa terdiam saat itu, benar-benar bisu. Tapi air mata & rasa sedih itu tak terbendung lagi saat jenazah ayah akan dibawa ke pemakaman. Aku berdiri di belakangnya sambil mendengarkan "pak kaum" bicara pada masyarakat tentang apapun yang perlu dikatakannya, ahli waris dan sebagainya. Sepanjang jalan ke pemakaman itu, aku benar-benar berjalan menangis dengan seorang kakak dan adikku yang saat itu seharusnya paling bahagia. Benar-benar tragedi terperih yang baru pertama ku rasakan, seseorang yang tangguh, kuat yang selama ini menjadi pahlawanku hari itu dia tak berdaya, aku lihat dia dibaringkan di lubang makamnya, itulah terakhir kali aku lihat mukanya yang begitu pucat tak mengucapkan apapun padaku sebagai salam perpisahan.
Sekarang, 30 September 2012. Empat tahun sudah dia pergi. Tapi semua tentang dia, benar-benar tak pernah pergi. Sebersit ingatan muncul saat dia duduk diantara para orang tua, mengambil raport terakhir kelulusanku di bangku SMP, saat dia sebangku memakan bakso bersamaku, saat dia belikan sepeda untukku kayuh tiap pagi ke sekolah baruku, itulah saat-saat berkesan & terakhir kali sebelum dia akhirnya pergi.
Ayah, beginilah aku, mungkin belum bisa menjadi yang kau mau, tapi aku sudah bisa membantu ibu, mencukupi sekolah adik-adikku walaupun hidupku dalam tanggungan orang lain, tapi itulah yang membuatku tak pernah berhenti bersyukur. Dia seperti malaikat penolongku, dia tanggung biaya sekolahku, sampai sekarang aku duduk di bangku kuliah, sesuatu yang tak pernah terfikir sepeninggalmu, karena hatiku bertekad setelah lulus dari bangku SMA aku hanya akan bekerja menggantikanmu, menyelesaikan tanggunganmu yang kau tinggalkan, tapi harus ku syukuri semuanya karena ini adalah RencanaNya yang terbaik.
Ayah lihat aku sekarang, anak kesayanganmu ini sekarang sedang berusaha menggantikanmu, membuat bahagia istri juga anak-anakmu, pahit manis, lapar dan nikmatnya kenyang sudah kurasakan, membuatku merasakan perjuanganmu dulu saat kau mencari nafkah untukku, meminjam uang untuk sekedar membeli LKSku yang mahal.Benar-benar baru kurasakan betapa wajarnya jika dahulu kau sering marah melampiaskan semuanya padaku.
Tahukah kau Ayah, adik kandungku yang kau tinggalkan saat hari ulang tahunnya? dia baru saja lulus dari bangku SMAnya, dan sekarang dia sudah bekerja di sebuah Restoran di Jakarta. Masih kusimpan SMSnya "Gaji pertamaku akan kukirim untuk ibu", begitu katanya. Semangatmu mungkin kau titipkan padaku, tapi sifatmu kau berikan padanya, adikku yang kau tinggalkan. Kini lihatlah kami membahagiakan ibu, kami takkan bercerai berai, akan kami ciptakan persaudaraan yang abadi.
Sampai di sini, aku tak tau kenapa kuceritakan mereka padamu, apakah kau mendengar? apakah kau mengerti, apakah kau merasa??
Selengkapnya »»
Kamis, 17 September 2007. Hari itu cerah, pohon-pohon diam seperti tidur, anginpun sepertinya enggan berbisik-bisik, saat itu petang menjelang maghrib. Pada Hari itulah Malaikat itu bertamu ke rumahku untuk menjemput Ayahku, bertepatan dengan malam Jum'at. Rumahku sangat ramai kala itu, dikerumuni warga yang memang sejak pagi datang silih berganti menjenguk ayahku yang sakit, lemah tak berdaya. Masih jelas di memoriku, hari itu adalah hari Ulang Tahun adikku & juga hari dimana kami seharusnya berbuka puasa bersama untuk pertama kalinya karena hari itu juga hari pertama kami melaksanakan ibadah puasa ramadhan tapi kami merayakannya dengan isak tangis yang menggebu-nggebu, tak pernah aku menangis seperti itu. Aku juga ingat, saat ayah menghembuskan nafas-nafas terakhirnya aku sedang terhanyut membaca ayat-ayat Yaasiin dengan derai air mata, aku tertunduk tak kuasa menahan tangis, tak kuasa aku menatap ibu & adik-adik kecilku memeluk dan menciumi ayah dengan rasa duka, mereka menangis sejadinya. Tak sanggup aku selesaikan Ayat Yaasiin itu, akupun sudah tak kuat lagi menahan sesak di hati. Kakiku yang bersila benar-benar tak mampu kugerakkan lagi, aku seperti patung yang menangis, Surat Yaasiin yang basah dengan air mata itu juga tak mampu kulepas dari tanganku, seluruh tubuhku kaku. Hanya mataku yang saat itu berisyarat, kawan-kawan di sampingku mengusap-ngusap pundakku, "sabar, mungkin ini yang terbaik" begitulah mereka berkata. Tapi ragaku masih kaku, benar-benar tak bisa bergerak lagi, hingga orang-orang membopongku masuk ke dalam kamar ibu, benar-benar aku lemah tak berdaya. Semalam itu aku habiskan untuk mendampingi jenazah ayah di ruang tamu. Dalam Hati ada kata yang tak pernah berhenti berucap "Ayah, Maafkan anakmu".
Pagi harinya, aku bergegas bersama kawan-kawan dan tetangga-tetanggaku membantu untuk membuat Keranda Jenazah untuk ayah, sambil menahan sedih di depan mereka, aku yang biasa bicara dan tertawa bersama mereka hanya bisa terdiam saat itu, benar-benar bisu. Tapi air mata & rasa sedih itu tak terbendung lagi saat jenazah ayah akan dibawa ke pemakaman. Aku berdiri di belakangnya sambil mendengarkan "pak kaum" bicara pada masyarakat tentang apapun yang perlu dikatakannya, ahli waris dan sebagainya. Sepanjang jalan ke pemakaman itu, aku benar-benar berjalan menangis dengan seorang kakak dan adikku yang saat itu seharusnya paling bahagia. Benar-benar tragedi terperih yang baru pertama ku rasakan, seseorang yang tangguh, kuat yang selama ini menjadi pahlawanku hari itu dia tak berdaya, aku lihat dia dibaringkan di lubang makamnya, itulah terakhir kali aku lihat mukanya yang begitu pucat tak mengucapkan apapun padaku sebagai salam perpisahan.
Sekarang, 30 September 2012. Empat tahun sudah dia pergi. Tapi semua tentang dia, benar-benar tak pernah pergi. Sebersit ingatan muncul saat dia duduk diantara para orang tua, mengambil raport terakhir kelulusanku di bangku SMP, saat dia sebangku memakan bakso bersamaku, saat dia belikan sepeda untukku kayuh tiap pagi ke sekolah baruku, itulah saat-saat berkesan & terakhir kali sebelum dia akhirnya pergi.
Ayah, beginilah aku, mungkin belum bisa menjadi yang kau mau, tapi aku sudah bisa membantu ibu, mencukupi sekolah adik-adikku walaupun hidupku dalam tanggungan orang lain, tapi itulah yang membuatku tak pernah berhenti bersyukur. Dia seperti malaikat penolongku, dia tanggung biaya sekolahku, sampai sekarang aku duduk di bangku kuliah, sesuatu yang tak pernah terfikir sepeninggalmu, karena hatiku bertekad setelah lulus dari bangku SMA aku hanya akan bekerja menggantikanmu, menyelesaikan tanggunganmu yang kau tinggalkan, tapi harus ku syukuri semuanya karena ini adalah RencanaNya yang terbaik.
Ayah lihat aku sekarang, anak kesayanganmu ini sekarang sedang berusaha menggantikanmu, membuat bahagia istri juga anak-anakmu, pahit manis, lapar dan nikmatnya kenyang sudah kurasakan, membuatku merasakan perjuanganmu dulu saat kau mencari nafkah untukku, meminjam uang untuk sekedar membeli LKSku yang mahal.Benar-benar baru kurasakan betapa wajarnya jika dahulu kau sering marah melampiaskan semuanya padaku.
Tahukah kau Ayah, adik kandungku yang kau tinggalkan saat hari ulang tahunnya? dia baru saja lulus dari bangku SMAnya, dan sekarang dia sudah bekerja di sebuah Restoran di Jakarta. Masih kusimpan SMSnya "Gaji pertamaku akan kukirim untuk ibu", begitu katanya. Semangatmu mungkin kau titipkan padaku, tapi sifatmu kau berikan padanya, adikku yang kau tinggalkan. Kini lihatlah kami membahagiakan ibu, kami takkan bercerai berai, akan kami ciptakan persaudaraan yang abadi.
Sampai di sini, aku tak tau kenapa kuceritakan mereka padamu, apakah kau mendengar? apakah kau mengerti, apakah kau merasa??
Aku memanggil namamu tapi kau tak menghiraukanku
Aku menangisimu dan kau tak bisa lagi menyeka air mataku
Aku merindukanmu dan kau pun tak pernah lagi datang padaku
Dulu aku pernah berjanji dalam hati
Untuk memberimu sesuatu yang berharga
Untuk sedikit membuatmu bahagia
Tapi kenapa kau malah pergi
Apa yang bisa kuberikan untukmu sekarang
Apa yang bisa kulakukan untuk menemanimu ..
Hanya Do'a yang bisa kulantunkan
Do'a itu yang akan menyelimutimu ...
Bermimpilah tentang kami Ayah
Semoga kita berjumpa lagi ...
Allohummaghfirlii Dzunuubii Waliwaalidayya warhamhuma Kamaa Robbayaani Saghiiroo ...
Aku menangisimu dan kau tak bisa lagi menyeka air mataku
Aku merindukanmu dan kau pun tak pernah lagi datang padaku
Dulu aku pernah berjanji dalam hati
Untuk memberimu sesuatu yang berharga
Untuk sedikit membuatmu bahagia
Tapi kenapa kau malah pergi
Apa yang bisa kuberikan untukmu sekarang
Apa yang bisa kulakukan untuk menemanimu ..
Hanya Do'a yang bisa kulantunkan
Do'a itu yang akan menyelimutimu ...
Bermimpilah tentang kami Ayah
Semoga kita berjumpa lagi ...
Allohummaghfirlii Dzunuubii Waliwaalidayya warhamhuma Kamaa Robbayaani Saghiiroo ...
Sabtu, 28 Juli 2012
Puisi Sepi
aku ingin mendengar setiap butir bicaramu
lembut dan menenangkan
hanya saja ...
waktu ...
tak selalu mempertemukan ..
lewat do'a aku titipkan rindu
lewat sepi, kuhadirkan riang tawamu saat-saat lalu
dan suaramu mengiang di telingaku
sepi ini, ungkapkan segala gundah di kedalaman hati
kenapa aku lemah
saat suaramu tak menghiasiku ...
melihat mawar yang indah pun terasa layu
dinda, seperti apakah perasaanmu
apakah sama seperti ini
kuharap tidak ... tersenyumlah.
biar aku s'lalu dengar kabar bahagia darimu
apa
apalagi yang bisa kujelaskan
selain kerinduan
hanya dengan kesetiaan kuikat rindu ini
agar menjadi indah nanti
saat waktu mempertemukan mata kita lagi ,..
mempertemukan rasa rindu dengan yang ia rindukan ..
jika tak begitu
apa yang bisa kulakukan ... ???
selain
melanjutkan puisi sepi ini ...
lembut dan menenangkan
hanya saja ...
waktu ...
tak selalu mempertemukan ..
lewat do'a aku titipkan rindu
lewat sepi, kuhadirkan riang tawamu saat-saat lalu
dan suaramu mengiang di telingaku
sepi ini, ungkapkan segala gundah di kedalaman hati
kenapa aku lemah
saat suaramu tak menghiasiku ...
melihat mawar yang indah pun terasa layu
dinda, seperti apakah perasaanmu
apakah sama seperti ini
kuharap tidak ... tersenyumlah.
biar aku s'lalu dengar kabar bahagia darimu
apa
apalagi yang bisa kujelaskan
selain kerinduan
hanya dengan kesetiaan kuikat rindu ini
agar menjadi indah nanti
saat waktu mempertemukan mata kita lagi ,..
mempertemukan rasa rindu dengan yang ia rindukan ..
jika tak begitu
apa yang bisa kulakukan ... ???
selain
melanjutkan puisi sepi ini ...
Sabtu, 21 Juli 2012
NOAH Band - Separuh Aku
![]() |
| New PeterpanBand |
Noah Band - Separuh Aku
Dan terjadi lagi
Kisah lama yang terulang kembali
Kau terluka lagi
Dari cinta rumit yang kau jalani
Aku ingin
Lupakan Kita
Selamat tinggal kasih
Selamat tinggal sayang
Semoga hidupmu s'lalu bahagia
Bersama dirinya pengganti diriku
Lupakanlah semua, Cerita cinta kita
Usahlah kau kenang begitu dalam
Karena semua tak akan kembali
Kuburlah kisah tentang diriku
Biarkan terhapus waktu
Kar'na percuma kita saling mencinta
Kalau akhirnya tak mungkin bersama
Kalau akhirnya Kau bersamanya ...
Selengkapnya »»
Selamat tinggal sayang
Semoga hidupmu s'lalu bahagia
Bersama dirinya pengganti diriku
Lupakanlah semua, Cerita cinta kita
Usahlah kau kenang begitu dalam
Karena semua tak akan kembali
Kuburlah kisah tentang diriku
Biarkan terhapus waktu
Kar'na percuma kita saling mencinta
Kalau akhirnya tak mungkin bersama
Kalau akhirnya Kau bersamanya ...
Rabu, 18 Juli 2012
Ikatan Cinta
cintamu datang kepadaku
dengan sangat indah
sperti cahaya bintang yang membingkai gelapnya malam
seperti rintik hujan membasahi padang gersang
kau hiasi ruang gelapku dengan senyum ketulusanmu
tak terlupakan dahulu, saat kau mnjadi mimpi
saat tak letih
Selengkapnya »»
dengan sangat indah
sperti cahaya bintang yang membingkai gelapnya malam
seperti rintik hujan membasahi padang gersang
kau hiasi ruang gelapku dengan senyum ketulusanmu
tak terlupakan dahulu, saat kau mnjadi mimpi
saat tak letih
Senin, 16 Juli 2012
Arief Pham Pham - Letih Menantimu
kalo saya sich kadang tidur, nyuci baju, becanda sama temen-temen and yang satu ini salah satunya, nyanyi-nyayi nyari inspirasi,,,hehe
maaf-maaf aja nich suaranya ga enak, wong saya bukan penyanyi kox, tap biar jelek ni lagu bikin sendiri .. haha just sing.
Lirik :
Harus b'rapa lama aku menunggumu, menunggumu
Harus b'rapa lama aku menantimu, menantimu
Tak pernahkah kau fikirkan betapa letihnya aku di sini
Menunggu sebuah janji yang kau ucapkan saat kau pergi
Dan aku masih menunggumu kasih
Dan kini ku letih menantimu
Rasa sayang ini tak akan berarti
Tanpa ada balas darimu kekasih
Mungkin hati ini kan sabar menunggu
Tapi ku kan pergi jika kau tak peduli ...
Minggu, 15 Juli 2012
Sampaikan Pesan Ummi pada Abimu
Ahmed putraku
Ummi tak tahu kenapa pagi ini kau bersikeras pergi ke pasar untuk belanja dapur kita, dimana biasanya Ummi yang melakukannya katamu, "Biar Ummi di rumah, Ummi mengaji saja di kamar biar Ahmed yang pergi ke pasar sekali ini saja."
Kau sangat
Dengan ini, Kupinta Do'amu
Setiap kali aku melihatmu, aku menyadari
Bahwa ternyata wanita adalah ciptaan Tuhan yang hebat
Tak selemah yang orang-orang katakan ataupun yang dijelaskan dalam buku-buku
Setiap kali aku melihatmu, aku menyadari
bahwa wanita bukan makhluk yang selalu mengeluh dengan penderitaan hidupnya
ternyata wanita adalah sosok yang tangguh, yang bertindak tanpa banyak kata
Bahwa ternyata wanita adalah ciptaan Tuhan yang hebat
Tak selemah yang orang-orang katakan ataupun yang dijelaskan dalam buku-buku
Setiap kali aku melihatmu, aku menyadari
bahwa wanita bukan makhluk yang selalu mengeluh dengan penderitaan hidupnya
ternyata wanita adalah sosok yang tangguh, yang bertindak tanpa banyak kata
Setiap kali aku melihatmu, aku mengagumi
Seperti matahari, yang setia memberi cahayanya ke seluruh penjuru bumi
tanpa mengharap cahayanya kembali, aku salut dengan ketulusanmu
Bahkan saat kami tak peduli, saat kami melupakanmu
Namaku tak pernah luput dari alunan do’a-do’amu
Memohon agar hidupku layak nanti
tanpa mengharap cahayanya kembali, aku salut dengan ketulusanmu
Bahkan saat kami tak peduli, saat kami melupakanmu
Namaku tak pernah luput dari alunan do’a-do’amu
Memohon agar hidupku layak nanti
Maafkan aku ibu, jika sampai hari ini
Tak bisa ku melukis senyum terindah di bibirmu
Tak bisa menjadikanmu seperti ibu-ibu yang lain di dunia ini
Yang setiap hari berjalan dengan senyum bahagia dari anak-anaknya
Tapi aku berjanji padamu ibu
Tak bisa ku melukis senyum terindah di bibirmu
Tak bisa menjadikanmu seperti ibu-ibu yang lain di dunia ini
Yang setiap hari berjalan dengan senyum bahagia dari anak-anaknya
Tapi aku berjanji padamu ibu
Pada waktunya nanti,
Akan tiba waktuku untuk memberimu kehidupan yang baik sebaik khayalanku
Aku yang kan membuat bibirmu tersenyum bangga
Aku ingin kau bahagia, aku ingin kita bahagia bersama …
Yang aku pinta sekarang, jangan letih mendo’akanku
Karena aku hidup dan berjalan dari do’a-do’amu
Aku yang kan membuat bibirmu tersenyum bangga
Aku ingin kau bahagia, aku ingin kita bahagia bersama …
Yang aku pinta sekarang, jangan letih mendo’akanku
Karena aku hidup dan berjalan dari do’a-do’amu
Jika bukan do’amu, dari siapa lagi aku meminta do’a termulia
Karena do’amu lah yang paling Tuhan dengarkan
Dengan ini, Kupinta Do’amu ...
Karena do’amu lah yang paling Tuhan dengarkan
Dengan ini, Kupinta Do’amu ...











